Menebar Jentik 'Nyamuk Pers' Melalui Pelatihan Penulisan Berita



Jakarta - ditjenmiltun.net, Selasa 11 Oktober 2016, ada yang berbeda di lantai sembilan Gedung Sekretariat Mahkamah Agung RI di Jalan Ahmad Yani Cempaka Putih Timur. Ruangan yang sehari-hari diperuntukkan khusus untuk tempat kerja bagi para penggiat IT di lingkungan Sekretariat Ditjen Badilmiltun ini tampak riuh rendah. Tepat pukul 10.00 WIB tampak beberapa Pejabat dan juga para Staff memasukki ruangan untuk mengikuti kegiatan Pelatihan Penulisan Berita di Website Ditjen Badilmiltun. Tidak tanggung-tanggung, Ditjen Badilmiltun mendatangkan seorang narasumber yang merupakan Mantan Penulis Berita Daring (online) hukumonline.com, yaitu Hermansyah, S.HI yang kini bekerja di Ditjen Badilag sebagai Kepala Seksi Pembinaan. Dengan diadakannya kegiatan ini diharapkan Ditjen Badilmiltun dapat menebar jentik nyamuk pers agar situs resmi Ditjen Badilmiltun menjadi lebih menarik. 

Menurut narasumber, proses menulis berita tidak ada bedanya seperi memasak. "Ketika kita mencicipi cita rasa sebuah masakan, belum tentu pula kita dapat membuat masakan yang enak seperti itu", tutur narasumber. Artinya sesuatu yang kita konsumsi (nikmati) belum tentu kita dapat memproduksinya.Nah bagaimana cara memproduksi sebuah berita (tulisan)? Sama seperti memasak, dalam menyusun/menulis sebuah berita langkah awal yang harus dilakukan adalah melakukan perencanaan terhadap berita (tulisan) yang ingin disajikan kepada khalayak, kemudian mengumpulkan bahan-bahan berupa data yang faktual, lalu mengolah data tersebut dan disajikan ke dalam bentuk narasi maupun deskripsi.

Dalam penyampaian materi, narasumber  tidak hanya sekedar mengajar secara teoritis saja melainkan lebih menitikberatkan ke dalam bentuk simulasi (praktis).  Secara teoritis terdapat 3 buah pendekatan yang menjadi pedoman dalam menulis berita, yaitu observasi, wawancara dan studi dokumen. Setelah simulasi (uji coba) menggunakan beragam metode untuk menggali informasi, narasumber menjelaskan kiat-kiat memproduksi publikasi di website. Kiat-kiat yang pertama sebagai langkah awal dalam memproduksi publikasi di website adalah penggunaan judul berita. Judul berita haruslah bersifat singkat dan jelas namun menarik, kemudian judul berita tidak boleh lebih dari 10 kata dan harus dalam bentuk kalimat aktif. Langkah selanjutnya adalah menyusun lead (teras berita) dimana  pada bagian ini berfungsi sebagai magnet yang dapat menarik minat pembaca atau juga dapat berfungsi sebagai pedoman. Langkah berikutnya adalah meracik tubuh berita dimana pada bagian ini merupakan isi dari berita yang ingin disampaikan. Dalam menulis bagian tubuh berita, penggunaan kalimat harus sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), begitupula dengan istilah, kata serapan dan tanda baca juga tidak dapat luput dari perhatian. Apabila menggunakan istilah atau kata serapan disarankan untuk memberikan penjelasan singkat yang ditulis di dalam simbol (dalam kurung).

Dalam menyusun sebuah publikasi (berita/tulisan/artikel) harus memperhatikan karakteristik publikasi situs resmi lembaga, antara lain orientasi untuk organisasi, paradigma “news is good”, batasan area pemberitaan dan kualitas isi berita (misalnya tidak bombastis). Selain memperhatikan karakteristik publikasi tersebut, sebagai penulis juga harus mampu menganalisa dan mengenali karakteristik pembaca.Selanjutnya terdapat kriteria umum nilai berita yang dapat dijadikan acuan dalam menyusun sebuah berita, seperti tidak biasa (unusualness), kebaruan, berdampak, kedekatan (proximity), orang penting, ada konflik/masalah, mengejutkan, mengharukan dan lain sebagainya. Terakhir, dari sudut pandang penulis selain harus mampu menganalisa dan mengenali karakteristik pembaca, tulisan yang disusun juga harus memuat karakteristik bahasa jurnalistik, seperti : sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, menarik, demokratis dan bersifat umum (tidak terlalu teknis).

Share to Social Media

Tekan play untuk mengaktifkan fitur baca